FAKTA INDONESIA - Tidak tahu apalagi yang mau dikatakan untuk memotivasi dan menyemangati para relawan dan pendukung, baik yang resmi maupu...
FAKTA INDONESIA - Tidak tahu apalagi yang mau dikatakan untuk memotivasi dan menyemangati para relawan dan pendukung, baik yang resmi maupun yang tidak resmi, para tokoh pendukung pasangan calon nomor 3 selalu mengumandangkan kecurigaan terhadap pilkada. Padahal, tidak pernah ada keluhan kubu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno terhadap perilaku KPUD dan Bawaslu Jakarta.
Bayangkan saja begitu banyak keluhan dan kesulitan yang dialami oleh para pendukung Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat untuk bisa memilih. Formulir C6 tidak diakomodir dengan baik dan di beberapa tempat RT terlalu nampak keberpihakannya. Kenyataannya memang banyak yang tidak dapat formulir C6.
Tetapi sebenarnya formulir C6 bukanlah syarat untuk bisa memilih kalau memang sudah terdaftar di DPT. Cukup membawa kartu identitas yang menjadi bukti sahih kita adalah orang yang benar sesuai dengan nama yang ada di DPT. Namun, berdasarkan pengalaman putaran pertama, simpang siur dan kesulitan atau tidak bisanya memilih terjadi di TPS oleh PPS yang tidak sigap dan kurang paham peraturan.
Dan seperti putaran pertama, hal ini tidak menjadi kekhawatiran oleh kubu Anies-Sandi. Malah yang menurut mereka kecurangan massif tersebut adalah hal yang merupakan fitnah dan sudah diklarifikasi bukanlah kegiatan timses Ahok-Djarot.
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto optimistis pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menang dalam pencoblosan Pilgub DKI putaran kedua. Menurutnya, hanya kecurangan besar yang bisa mengalahkan Anies-Sandi.
“Kami sangat optimistis, hanya kecurangan besar yang bisa mengalahkan Anies-Sandi jadi Gubernur DKI,” kata Prabowo di Restoran Batik Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/4/2017).
“Kita benar-benar prihatin dengan pelanggaran-pelanggaran sistematik. Pembagian sembako yang sudah sangat-sangat masif,” ungkapnya.
“Kita sering dicurangi seperti Pandawa, tapi yang menang selalu yang benar saudara-saudara,” katanya.
Hebat bukan bagaimana mereka menyemangati dan memotivasi tim menjelang Pilkada Jakarta. Isu kecurangan besar dan massif terus dikumandangkan sebagai kecurigaan Pilkada Jakarta kalau mereka kalah. Padahal, kalau memang yakin menang, untuk apa isu kecurangan besar dan massif diwacanakan?? Bukankah itu adalah tanda-tanda kekalahan??
Berbeda dengan Partai koalisi Ahok-Djarot yang juga melakukan konsolidasi, tidak ada sedikit pun menyinggung masalah kecurangan besar kalau nantinya mereka kalah. Bahkan dengan sangat optimis menyebutkan angka kemenangan mereka. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto optimis pasangan yang mereka usung meraih suara 52,4 persen.
“Kami yakin dan optimis pasangan yang kami dukung meraih suara sebanyak 52,4 persen,” ucapnya kepada wartawan di lokasi.
Surya Paloh mewakili seluruh partai pengusung juga memohon maaf kepada warga Jakarta, jika selama dalam proses kampanye Pilkada DKI telah melakukan kesalahan.
“Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan ribuan terima kasih, sekaligus permintaan maaf kami sebagai partai pengusung Basuki Tjahja Purnama dan Djarot, bahwa selama masa era memperkenalkan, mengkampanyekan, terjadi hal-hal yang kurang tepat di hati masyarakat,” kata Surya Paloh.
Perbedaan memang wajar terjadi karena dua kubu bukan kali ini saja melakukan pertarungan politik. Pada Pilpres 2014 pun hal ini juga terjadi. Dan seperti biasa, isu kecurangan massif, sistematis selalu dikumandangkan oleh kubu lawan. Keyakinan kemenangan yang disertai ketakutan kekalahan. Aneh.
Kekhawatiran Prabowo ini saya pikir kemungkinan besar akan terbukti kebenarannya. Tentu saja bukan kecurangan massif yang dimaksudkannya, melainkan kekalahan pasangan Anies-Sandi. Hari ini adalah sebuah perjuangan untuk tetap menjaga Jakarta direbut oleh kubu perongrong APBD yang berafiliasi dengan para pengrongrong NKRI dan Pancasila. Jangan serahkan Jakarta yang sudah mulai berubah dirusak kembali oleh mereka.
Selamat memilih Jakarta, Tuhan memberkati.
Salam #Gue2.
Oleh: Pulti Hutabarat, Seword.com
Bayangkan saja begitu banyak keluhan dan kesulitan yang dialami oleh para pendukung Basuki Tjahaya Purnama dan Djarot Saiful Hidayat untuk bisa memilih. Formulir C6 tidak diakomodir dengan baik dan di beberapa tempat RT terlalu nampak keberpihakannya. Kenyataannya memang banyak yang tidak dapat formulir C6.
Tetapi sebenarnya formulir C6 bukanlah syarat untuk bisa memilih kalau memang sudah terdaftar di DPT. Cukup membawa kartu identitas yang menjadi bukti sahih kita adalah orang yang benar sesuai dengan nama yang ada di DPT. Namun, berdasarkan pengalaman putaran pertama, simpang siur dan kesulitan atau tidak bisanya memilih terjadi di TPS oleh PPS yang tidak sigap dan kurang paham peraturan.
Dan seperti putaran pertama, hal ini tidak menjadi kekhawatiran oleh kubu Anies-Sandi. Malah yang menurut mereka kecurangan massif tersebut adalah hal yang merupakan fitnah dan sudah diklarifikasi bukanlah kegiatan timses Ahok-Djarot.
Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto optimistis pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menang dalam pencoblosan Pilgub DKI putaran kedua. Menurutnya, hanya kecurangan besar yang bisa mengalahkan Anies-Sandi.
“Kami sangat optimistis, hanya kecurangan besar yang bisa mengalahkan Anies-Sandi jadi Gubernur DKI,” kata Prabowo di Restoran Batik Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/4/2017).
“Kita benar-benar prihatin dengan pelanggaran-pelanggaran sistematik. Pembagian sembako yang sudah sangat-sangat masif,” ungkapnya.
“Kita sering dicurangi seperti Pandawa, tapi yang menang selalu yang benar saudara-saudara,” katanya.
Hebat bukan bagaimana mereka menyemangati dan memotivasi tim menjelang Pilkada Jakarta. Isu kecurangan besar dan massif terus dikumandangkan sebagai kecurigaan Pilkada Jakarta kalau mereka kalah. Padahal, kalau memang yakin menang, untuk apa isu kecurangan besar dan massif diwacanakan?? Bukankah itu adalah tanda-tanda kekalahan??
Berbeda dengan Partai koalisi Ahok-Djarot yang juga melakukan konsolidasi, tidak ada sedikit pun menyinggung masalah kecurangan besar kalau nantinya mereka kalah. Bahkan dengan sangat optimis menyebutkan angka kemenangan mereka. Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto optimis pasangan yang mereka usung meraih suara 52,4 persen.
“Kami yakin dan optimis pasangan yang kami dukung meraih suara sebanyak 52,4 persen,” ucapnya kepada wartawan di lokasi.
Surya Paloh mewakili seluruh partai pengusung juga memohon maaf kepada warga Jakarta, jika selama dalam proses kampanye Pilkada DKI telah melakukan kesalahan.
“Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan ribuan terima kasih, sekaligus permintaan maaf kami sebagai partai pengusung Basuki Tjahja Purnama dan Djarot, bahwa selama masa era memperkenalkan, mengkampanyekan, terjadi hal-hal yang kurang tepat di hati masyarakat,” kata Surya Paloh.
Perbedaan memang wajar terjadi karena dua kubu bukan kali ini saja melakukan pertarungan politik. Pada Pilpres 2014 pun hal ini juga terjadi. Dan seperti biasa, isu kecurangan massif, sistematis selalu dikumandangkan oleh kubu lawan. Keyakinan kemenangan yang disertai ketakutan kekalahan. Aneh.
Kekhawatiran Prabowo ini saya pikir kemungkinan besar akan terbukti kebenarannya. Tentu saja bukan kecurangan massif yang dimaksudkannya, melainkan kekalahan pasangan Anies-Sandi. Hari ini adalah sebuah perjuangan untuk tetap menjaga Jakarta direbut oleh kubu perongrong APBD yang berafiliasi dengan para pengrongrong NKRI dan Pancasila. Jangan serahkan Jakarta yang sudah mulai berubah dirusak kembali oleh mereka.
Selamat memilih Jakarta, Tuhan memberkati.
Salam #Gue2.
Oleh: Pulti Hutabarat, Seword.com