FaktaIndonesia.id - Minggu kemaren Kemenag merilis 200 nama yang direkomendasi sebagai penyampai Islam (pendakwah). Saya plototi nama-nama ...
FaktaIndonesia.id - Minggu kemaren Kemenag merilis 200 nama yang direkomendasi sebagai penyampai Islam (pendakwah). Saya plototi nama-nama yang muncul. Pro-kontra keras terjadi di medsos & media massa. Publik benar-benar heboh, bertanya, nyinyir, tak terima idola & pujaannya tak masuk daftar. Saya pun bertanya. Kenapa nama Mukidi tak ada?
Bayangin saja. Habib Rizieq Shihab yang mampu menggalang demo berjilid, 7 juta orang bisa ngumpul di Monas, dan menghasilkan alumni 212 tak muncul. Bachtiar Nasir pun tak ada. Padahal dialah komandan pengawal GNPF-MUI. Infonya, hape beliau memuat 1 juta jamaah & follower. Belum lagi Abdul Somad. Sekalipun tak akan mencapai level Kiai Zainuddin MZ, pidato dia menyihir & memukau umat. Ustadz ini kapasitasnya serupa Google. Apapun bisa dijawab. Tak peduli menebar hoax, fitnah, mengejek orang & menghina akal sehat.
Secara khusus, tadz Somad dalam kecewanya, dengan sombong. "jadual saya penuh sampai 2020", katanya. Saya suka Tadz Yusuf Mansur. Dengan cool"saya lebih senang bila tak masuk daftar", katanya.
Lebih jauh, di akun facebookku beberapa muballigh top tak terima. Ada yang serius, ada yang bercanda. Misalnya" #2019gantipresiden & menag. Siapa calonnya? Bib Rizieq untuk Presiden, dan Somad sebagai Menag. Ha ha ha. Ancor pessenah tellor, kata orang Madura.
Saya mencoba mencari jawaban. Apa kriteria, standar & bagaimana SOP listing & penilaian itu dilakukan?Masa sich hanya 200 nama untuk se-Indonesia?
Ah, ternyata saya terlalu serius. "Terlalu", kata Bang Haji Rhoma. Lho memang apa analisanya?
Begini-coba kalian catat ya- analisa bodoh saya.
Pertama, Pak "Wiro Lukman" itu manusia cerdas, hebat, nah yang terakhir ini penting. Beliau itu politisi hebat. Cerdas & pintar sudah pasti. DNA ulama. Ayahnya itu menteri agama. Kiai Saifuddin Zuhri. Guru Cak Nur pula. Bagaimana tidak hebat. Dia itu Menag era Pak SBY. Dipertahankan oleh Pak Jokowi. Pasti punya jimat, wiridan & hizib yang cespleng. Dia orang NU lho! ahli hal itu.
Saya punya cerita khusus. Sebelum jadi menteri, sesaat lepas dari MPR pasca Pak Taufik Kiemas. Saya jumpa di UI. "Tadz, kemana gerak setelah ini?Gak minat bikin pesantren?Dia bilang:"Saya ngalir aja mas", katanya.
Yakin saya, haqqulyakin, rilis 200 nama itu sudah dihitung cermat. Beliau sudah mengkalkulasi hiruk pikuk, respon para pihak, jeritan musuh politik & heboh kaum awam.
Beliau bukan politisi kacang rebus. Cek saja karier, reputasi & rekam prestasinya. Beeeeeh moncer & two tumbs baginya.
Kedua, seperti judul tulisan ini, 200 nama ini tak lebih trigger untuk membangunkan umat & bangsa Indonesia. "Wooiii, bangun dog umat Islam. Agama kalian disalahgunakan. Kalian ditipu oleh jargon-jargon kosong. Bela Islam, bela ulama", begitu saya menafsir dengan hermeneutika Wiro Sableng.
"Wooiii bangun wahai umat. Ada pengasong ilusi negara khilafah tuch. Gini hari mimpi bolong. Gak dengar ya, HTI itu haram di 20 negara Islam. Gak baca ya negara2 sekuler justru sukses & maju tanpa embel2 negara agama. Yang penting itu penerapan nilai-nilai agama. Bukan sekadar teriak bela agama.
"Woiiii umat Islam sadar dong!Agamamu dikotori oleh pengasong intoleransi, radikalisme & terorisme", itu pesan Pak Wiro Lukman lewat rilis itu.
"Woooii, ayo selamat bangsa & tanah air tumpah darah kita. Bahaya bagi Pancasila, UUD 45, Kebhinekaan & NKRI. Saya sudah tandai nama2 pendakwahnya. Yang tidak masuk, sekalipun populer & punya 1 juta umat, itu bahaya & membahayakan", itu tafsir saya atas rilis itu.
Ketiga, posisi & sikap Pak Menag itu clear, terang seterang matahari terhadap intoleransi, hatespeech, hoax, ekstremisme & terorisme. Tak boleh Islam dicitrakan buruk. Haram menginstrumentalisasi agama. Tak peduli punya 1 juta umat, teman, sealmamater & seperguruan.
Dalam catatan saya ada 3 alumni Gontor, ngetop & punya massa fanatik. Ustadz Bachtiar Nasir, Lutfie Fathullah & Zaitun Rasmin. Siapa yang tak kenal mereka. Komandan lapangan pendemo Ahok. Bagi Pak Lukman demo bertajuk "Bela al-Qur'an/Bela ulama/Bela Islam" itu instrum
entalisasi agama semata. Islam sekadar alat mobilisasi, instrumen sentimen & emosi umat. Tujuannya politik & kuasa semata.
Dengan rilis itu Kemenag sedang jihad akbar menahan & ikhtiar menekuk para pengasong kekerasan, hoax & intoleransi.
Keempat, FYI, Litbang Kemenag sebetulnya sudah melakukan riset lapangan se-Indonesia. Ada 6 ribu nama muballigh/pendakwah dalam kriteria & standar keindonesiaan. Angka itu akan terus diupdate. Karena itu, 200 nama itu sekadar "test the water" untuk mereminder umat saja ada ancaman kepada masa depan bangsa lewat mimbar & majelis taklim.
Sebagai catatan, saya yakin, rilis muballigh/pendakwah itu bukan bermakna menyasar & menframing Islam. Sama sekali tidak. Kemenag pun punya data & angka penyampai agama non muslim yang potensial melakukan hal tak layak dalam agama & beragama. Siapapun yang mengancam negara & bangsa wajib diingatkan & dihentikan.
Kelima, tapi kok masih ada nama pendakwah& muballigh yang terindikasi isi ceramahnya nyinyir, anti keindonesiaan & memprovokasi. Lho, ada?Misalnya AH/D. He he he. Pak Menag itu politisi matang & dingin. Ibarat pilot, jam terbangnya ribuan. Ibarat di ketentaraan, beliau jenderal. Tentu paham siasat & strategi berperang. Paham kan?
Nah, pasca rilis, tentu umat Islam tinggal berkontribusi & berperan aktif. Kriteria sudah ditayangkan.Indikator sudah dipampangkah.
Masih mau menggunakan penyampai agama yang gelap mata pada nasib bangsa?Masihkah akan melanjutkan menebar khikafah Islamiyah & menyokong aksi intoleran & terorisme?
Oleh: Mohammad Monib, Pengasuh Pesantren Fatihatul Quran
