FAKTA INDONESIA - Jakarta dan kemacetan, sepertinya tidak dapat dipisahkan. Jumlah penduduk yang super padat, dengan jumlah kendaraan yang ...
FAKTA INDONESIA - Jakarta dan kemacetan, sepertinya tidak dapat dipisahkan. Jumlah penduduk yang super padat, dengan jumlah kendaraan yang terus bertambah setiap harinya menjadikan Jakarta salah satu kota dengan presentase kemacetan paling parah sedunia.
Flyover simpang susun semanggi, adalah wujud nyata kerja seorang Gubernur Ahok demi mengurangi kadar kemacetan di Jakarta. Dikerjakan dengan teknologi jembatan tercanggih saat ini. Dua flyover yang melingkar ini tersusun dari 333 segmental box girder yang telah dicetak (precast) untuk kemudian disusun sambung menyambung (bayangkan permainan lego). Tantangannya, jika cetakan tidak sama persis atau berbeda beberapa sentimeter saja, antara boks yang satu dan yang lain tidak akan bertemu sempurna.
Baca Juga: Surat Cinta Seorang Santri Untuk AHOK: Anda ini Makhluk Tuhan Jenis Manusia Level Berapa?
Hebatnya lagi, flyover ini didesain oleh Jodi Firmasyah, ahli jembatan dari ITB yang pernah merancang Jembatan Barelang yang kini jadi ikon Pulau Batam. Simpang susun semanggi rencananya akan jadi ikon Jakarta kedua setelah Monas tak hanya menyimpan kecanggihan, tetapi estetika dengan makna personal bagi Jakarta.
Salah satu nilai estetika yang akan dinikmati warga nantinya adalah pencahayaan lampu warna-warni di sepanjang bentangnya. Merunut ke sejarah, ketika pertama kali diinisiasi pada tahun 1961, kata Semanggi yang dipilih sebagai nama jembatan tersebut berasal dari bahasa lokal (Jawa), tumbuhan Marsileaceae yang bisa dijadikan lalapan. Tanaman merambat itu hidup di semak, berdaun majemuk, dan biasa ditemukan di dekat perairan.
“Jembatan ini kita anggap seperti daun semanggi, mengapung di atas air, sehingga nanti lampunya itu bisa disetel warnanya, kemudian dengan software khusus kita berikan efek seperti gelombang air,” kata Dani, Deputi General Manager Superintendent PT Wijaya Karya kepada wartawan, 21 Februari 2017.
Dani mengatakan, pakar pencahayaan dari Australia tengah mengkaji desain pencahayaan Simpang Susun Semanggi. Lampu ini nantinya bisa dikendalikan dari Balai Kota, tepatnya markas Jakarta Smart City.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/22/10065561/kehebatan.dan.cerita.di.balik.simpang.susun.semanggi.
Dana yang dianggarkan untuk pembangunan proyek itu yang mencapai Rp 360 miliar, yang berasal dari nilai kompensasi pengembang (CSR) PT Mitra Panca Persada, anak perusahaan asal Jepang, Mori Building Company.
Jembatan layang Semanggi ini terdiri dari dua ruas, satu ruas diperuntukkan bagi kendaraan dari arah Cawang menuju ke Bundaran Hotel Indonesia, dan satu ruas lainnya untuk kendaraan dari arah Slipi menuju Blok M. Rencananya flyover ini akan selesai dan diresmikan tanggal 17 Agustus 2017, bertepatan dengan peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Flyover ini juga merupakan proyek penunjang penyelenggaraan Asian Games 2018.
Bagaimanapun, pembangunan flyover ini sempat diwarnai berbagai kontroversi, diantaranya:
Proses Pembangunan Akan Menambah Kemacetan
Ketika groundbreaking pembangunan proyek Simpang Susun Semanggi pada bulan April 2016, ramai orang membayangkan betapa kemacetan daerah Semanggi yang pada hari-hari biasa sudah sangat parah, akan bertambah parah selama masa pembangunan.Hal ini dibantah oleh Kasubdit Pembinaan dan Penegakkan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Budiyanto. Beliau memastikan jika proyek tersebut tidak akan mengganggu arus lalu lintas di kawasan Semanggi.
“Itu pembangunannya kan di taman yang ada di bawah Jembatan Semanggi. Saya kira enggak akan mengganggu arus lalu lintas,” ujar Budiyanto, melalui keterangan tertulisnya, Jumat (7/4/2016).
Kritik DPRD DKI Jakarta
Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS, Dite Abimanyu, di Gedung DPRD DKI Jakarta, tanggal 29 April 2016 pernah mengkritik langkah Pemprov DKI yang membangun jembatan simpang susun Semanggi tanpa menggunakan APBD, melainkan memakai dana CSR.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2016/04/29/19260121/Tanggapi.Kritik.Ahok.Tegaskan.Sudah.Ada.Kajian.soal.Simpang.Susun.Semanggi
Hal ini tentu bertentangan dengan pendapat Presiden Jokowi yang malahan memuji cara Ahok membiayai proyek sebesar Rp 360 Miliar ini tanpa menggunakan uang negara.
Menurut saya keduanya tidak masalah, asalkan penggunaan budget anggaran harus transparan, dan itu sudah dilakukan Ahok dengan e-budgeting.
Bentuk Dikatakan Mirip Logo Grup Band Slank
Memang jika dilihat-lihat, ada persamaan diantara keduanya, tapi perbedaannya juga banyak. Intinya, ga penting, hehehe…
Baca juga: Simulasi Rumah DP 0%, Gajimu 5 Juta Per Bulan? Siap-siap Gigit Jari, Itupun Kalau....
Berpotensi Menambah Kemacetan?
Beberapa pengamat pernah mengatakan jika pembangunan flyover ini malah berpotensi meningkatkan kemacetan, dikarenakan terbentuknya bottleneck di sejumlah titik pada simpang susun Semanggi. Mengenai itu, Ahok mengatakan dia juga sudah memperhitungkannya.”Begini aja deh, aku ini enggak pintar banget tapi enggak bodoh juga gitu loh. Suruh dia berdebat sama orang pintar, semua orang juga tahu kalau 6 jalur diubah jadi 4, ya jadi bottleneck. Makanya kita di Kuningan juga ada underpass dan flyover kan, supaya pas. Nanti Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin kita sempitin jalan nih supaya jangan dari 6 jalur, makanya kita pilih trotoarnya dilebarin supaya dia konsisten, 4 jalur ya 4 jalur terus.” ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (13/7/2016).Baca juga: Awalnya Pongah Anies Menang, Ahok Mah Dah Modarr, Setelah Tahu Ini dari Penumpangnya, Driver Gojek Ini Menangis Menyesal, Ahok Tak Seperti yang Disangka....
Memang susah menjadi orang baik dan jujur di negeri ini, banyak sekali rintangannya. Tapi untuk seorang Ahok, semuanya tidak penting, karena terbukti walaupun tidak terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ahok sudah meninggalkan banyak ‘warisan’ kepada warga Jakarta.
Baca juga: Antasari Sampai Terkejut Tahu Bagaimana Ahok Selamatkan APBD DKI Dari Garong Uang Rakyat dengan Cara Ini, Bikin Anies Muram!
Oleh: Yaya, Seword.com