FAKTA INDONESIA - “Kelompok Islam yang ngaji tidak tuntas baru belajar bab Al Ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mengira ...
FAKTA INDONESIA - “Kelompok Islam yang ngaji tidak tuntas baru belajar bab Al Ghadhab (pasal marah), lantas berhenti mengaji. Dan mengira ajaran Islam hanya sependek itu. Efeknya kemana-mana. Mereka marah melulu. Padahal, masih ada bab selanjutnya tentang tawadhu, sabar dan seterusnya,”.
Kutipan tersebut saya ambil dari sebuah T-Shirt yang bagian belakangnya sablonan kalimat mengutip pernyataan KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Mus. Sederhana dan sangat mudah dimengerti. Saya mengingat kutipat itu ketika membaca Djarot Saiful Hidayat, Cawagub pasangan Basuki Tjahja Purnama, diusir untuk secepatnya keluar dari Masjid Al Atiq, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, seusai sholat Jum’at.
Ketika kejadian, Djarot sedang menuju luar masjid. Dia tampak bersalaman dan berfoto-foto dengan beberapa warga. Namun, suasana menjadi begitu ramai ketika Djarot sudah berada di luar masjid. Suara takbir menggema di dalam masjid mengiringi kepergian Djarot.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,” teriak beberapa jamaah yang menolak Djarot di masjid tersebut.
“Usir, usir, usir,” sahut jemaah lain.
Astagfirullah al adzim. Betapa mudahnya orang-orang ini menggunkan kalimat Allahu Akbar, kalimat untuk mengagungkan nama Allah itu, justru digunkan untuk mengusir seorang hamba ciptaan Allah, dari rumah Allah. Tak habis pikir apa yang ada dalam otak mereka. Kebencian dengan mengatas namakan Tuhan nampaknya menjadi hal yang lumrah bagi mereka.
Mungkin saja benar apa yang diungkapkan Gus Mus, meraka hanya belajar pada bab Al Ghadhab saja. Karenanya mereka mereka selalu marah, marah dan marah. Yang lebih menyakitkan, pengusiran itu dilakukan setelah sholat Jum’at. Setelah mereka semua selesai beribadah kepada Allah. Tapi nampaknya hati mereka tidak ikut beribadah.
Selesai sholat Jum’at mestinya hati mereka lebih tawadhu dan lebih sabar. Tapi nyatanya, dengan bertakbir mereka mengusir orang yang dianggap berseberangan dengan kelompoknya. Mestinya mereka lebih rendah diri dan tidak sombong sebagai muslim. Namun yang diperlihatkan kesombongan sebagai muslim, seolah-olah merekalah yang paling benar. Mereka merasa paling berhak atas masjid tersebut. Padahal sejatinya masjid itu rumah Allah yang siapa saja boleh beribadah di dalamnya.
Bahagiakah mereka setelah mengusir Djarot? Saya yakin mereka sangat bahagia. Orang-orang itu akan merasa menang karena telah mengusir Djarot. Tentunya dengan menepuk dada mereka akan menceritakan kisah “heroik” ini kepada yang lain dengan penuh kebangaan. Bahkan mungkin ini akan menjadi cerita berhari-hari yang membuat mereka merasa berhasil dalam perjuangannya.
Dihadapi Dengan Senyum
Salut buat Djarot. Meski diusir dia tetap menghadapinya dengan senyum. Djarot mengungkapkan, awalnya kehadiran dia di masjid tersebut mendapat sambutan yang hangat dari para jamaah. Bahkan jamaah yang sudah berada di dalam masjid sempat berfoto dan bersalaman dengannya sebelum salat Jum’at dimulai. “Jemaahnya baik, tadi salaman foto-foto. Mungkin takmirnya baru tahu pas banyak orang salaman dan foto-foto sama saya. Sehingga ya pidatolah di situ,” ujar Djarot usai salat Jumat.
Dia juga mengatakan, biasanya memang memilih masjid yang terdekat dengan kegiatan berikutnya untuk shalat Jumat. Dia tidak memiliki niat buruk dengan shalat di masjid itu. “Niat saya kan baik, enggak apa-apa, biasa. Saya ke masjid mana saja boleh. Tadi jemaahnya juga bagus semua, salaman semua. Mungkin takmirnya baru tahu saya ada di situ ya kan sehingga ya pidato seperti itu,” ujar dia.
Bila melihat kondisi di sekitar masjid, nampaknya Djarot memang tidak bisa sholat di masjid itu. Tengok saja, di depan masjid tersebut, terdapat rumah kosong yang dipasangi sebuah spanduk bergambar foto pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq. Di spanduk tersebut juga berisi tulisan “Seluruh Majelis Ta’lim Sekelurahan Kebon Baru Sekecamatan Tebet Mendukung dan Membela Para Ulama & Habib Rizieq dari Kriminalisasi Agama”.
Tidak jauh dari masjid tersebut, terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Tolak Penista Agama di Kampung Melayu Tercinta”. Di depan spanduk itu, terdapat spanduk lain berisi gambar pasangan calon Anies Baswedan- Sandiaga Uno.
Pengusiran ini tentu menambah daftar panjang bagaimana masjid dijadikan tempat berpolitik. Sebelum kejadian ini sudah banyak rentetan kejadian yang jelas-jelas mempolitisasi masjid. Hingga kini Al Maidah 51 dan sederetan ayat lainnya masih digunakan untuk mempropaganda untuk tidak memilih pimpinan non-muslim. Belum lagi masalah tidak akan disholatinya jenazah pendukung Ahok-Djarot.
Sejatinya Islam itu toleran, bukan Islam pethenthengan!!!
Oleh: ADITHIA RENATA RAKASIWI, SEWORD.COM