DETIK METRO - Om zakir yang nggak pernah turun, anda beruntung bisa diterima oleh beberapa kalangan di sini. Bukan karena anda berhasil me...
DETIK METRO - Om zakir yang nggak pernah turun, anda beruntung bisa diterima oleh beberapa kalangan di sini. Bukan karena anda berhasil menutupi status buron terorismu di negara anda sendiri, tetapi murni 100 persen 24 karat sebab kalangan-kalangan tersebut ikut menutupi anda dengan buaian simbol-simbol agama sehingga pandangan jernihnya menutupi kalbu seperti jenggotmu yang menutup naik turunnya jakun di leher anda.
Sejak rencana kedatanganmu ke Indonesia setahun silam yang kemudian batal dan akhirnya tahun ini bisa terlaksana, saya sudah memprediksi model seperti apa ceramah panggung yang akan anda buat plus isi cermahnya.
Antusiasme sejumlah orang yang mengikuti anda mengingatkan saya akan film India "PK". Film tersebut secara sarkas mengkritik seorang tokoh rohaniawan palsu yang menjadikan agama sebagai komoditas belaka untuk mengeruk keuntungan duniawi lewat simbol-simbol agama.
Saya tidak menyebut anda menjual ayat, tetapi anda telah menjadikan ayat sebagai alat permusuhan antar-makhluk Tuhan dengan menyajikan bumbu tak sedap seperti kafir, sesat, masuk neraka, benar, salah, tak rasional, dan argumentasi utopia lainnya.
Saya miris sambil pringisan mendengar gemuruh segelintir anak bangsa di negeri ini atas kehadiranmu. Mereka yang katanya terdidik merasa mendapat siraman rohani dari anda tatkala anda mengatakan bahwa yang memperingati Maulid Nabi masuk neraka.
Catat! Nabi Muhammad sendiri berbahagia atas kelahiran dirinya dengan mengekspresikannya lewat puasa Senin. Kenapa? Karena Beliau lahir hari Senin dan hari itu pula ia pertama kali menerima Wahyu dari Allah melalui malaikat Jibril.
Jadi, bukan puasanya secara eksplisit, tetapi kegembiraan Nabi secara implisit yang berusaha diikuti oleh umatnya dengan memperingati kelahiran Nabi. Baca Maulid Barzanji, Simtud dhuror, dzikir, wirid, dan seterusnya sebagai ekspresi kegembiraan. Anda dan para fans cibi-cibi anda umat Nabi kan?
Oleh: Fathoni Ahmad
Guru ngaji, tinggal di Gresik
Guru ngaji, tinggal di Gresik