FAKTA INDONESIA - Tanggal 19 April sudah makin mendekat, pertarungan antar pasangan calon Gubernur DKI telah memasuki tahap akhir. Pertarun...
FAKTA INDONESIA - Tanggal 19 April sudah makin mendekat, pertarungan antar pasangan calon Gubernur DKI telah memasuki tahap akhir. Pertarungan kedua kubu makin panas. Namun dalam beberapa hari terakhir ini adalah hari-hari yang sangat tidak menyenangkan bagi Anies dan Sandiaga karena munculnya beberapa peristiwa yang makin menyudutkan peluangi Anies-Sandiaga dalam pertarungan Pilkada DKI ini.
Sebenarnya arah dukungan PKB sudah jelas. Selama sebulan terakhir, kemesraan antara PKB dan Ahok sangat jelas terlihat. Apalagi sebelum PKB mendeklarasikan dukungannya kepada Ahok-Djarot secara resmi, GP Ansor sudah terlebih dahulu menyatakan dukungan mereka kepada Ahok-Djarot. Maka lengkaplah sudah, secara kelembagaan NU memang netral, namun organisasi-organisasi yang memiliki hubungan dengan NU cenderung mendukung Ahok-Djarot. Bahkan PPP versi Romi pun, walaupun belum secara resmi menyatakan dukungannya, memilih untuk memberikan dukungannya kepada Ahok-Djarot.
Merasa terpojok dengan gagalnya mendapat dukungan PKB, tim sukses Anies-Sandiaga mencari pengganti PKB, dan mereka mendapatkannya dari seorang Daeng Azis. Sekali lagi pasangan Anies-Sandiaga menciptakan blunder dengan mengundang Daeng Azis, mantan orang kuat di Kalijodo, untuk mengikuti kampanye Anies-Sandiaga. Sebelum Ahok mereformasi daerah Kalijodo, Daeng Azis adalah orang kuat yang ditakuti oleh banyak orang, termasuk pejabat. Bahkan ketika jabatan Gubernur DKI dipegang oleh seorang mantan jenderal pun Kalijodo tidak terusik. Padahal sudah lama Kalijodo terkenal sebagai dunia maksiatnya Jakarta. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh seorang Daeng Azis. Hanya Ahok yang berani mengusik ketenangan Daeng Azis, padahal sudah ada ancaman pembunuhan terhadap Ahok pun tidak dipedulikan. Memang benar kata orang, urat takutnya Ahok sudah putus, sampai mati pun dia rela untuk menjalankan amanah jabatannya.
Beda tim sukses, beda lagi pasangan Anies-Sandiaga. Ketika mereka melihat Daeng Azis, mereka kaget dan berusaha menghindar. Parahnya, tim suksesnya tidak mengerti hal itu, bahkan memperparah keadaan. Awalnya Daeng Aziz duduk di bagian belakang, namun beberapa relawan Anies-Sandiaga malah mengarahkan Daeng Azis untuk pindah ke bagian depan, tepat di hadapan Anies yang berada di panggung. Di atas panggung, Anies mengucapkan terima kasih kepada pendukungnya dan menyebutkan nama-nama tokoh masyarakat yang duduk di depan, kecuali Daeng Asiz. Ketika acara berakhir, lagi-lagi relawan Anies-Sandiaga memaksa Anies berfoto bersama Daeng Azis. Di akhir acara, Daeng Azis menyatakan dukungannya kepada Anies-Sandiaga. Klop deh, Anies mendapat tambahan dukungan, walaupun dia sendiri mungkin tidak suka dengan dukungan itu. Aneh kan? Yang lebih lucu lagi, ketika ditanya oleh wartawan, keduanya mengaku tidak tahu siapa siapa Daeng Azis itu. Suatu hal yang mustahil dan tidak masuk akal kalau Anies dan Sandiaga tidak tahu siapa itu Daeng Azis. Apalagi Daeng Azis terkenal dengan dendamnya terhadap Ahok karena menghabisi bisnis lendirnya di Kalijodo dan mengubahnya menjadi taman bermain yang ramah anak.
Baca juga: Ahok Sunan Kalijodo, Wali, dan Kedangkalan Berfikir Kaum 'Bumi Datar'
Jelas terlihat bahwa di dalam tim sukses Anies-Sandiaga timbul kepanikan karena dalam beberapa hari ini banyak kejadian yang sangat merugikan pasangan mereka. Tim sukses Anies-Sandiaga sadar bahwa peluang Anies-Sandiaga untuk menang makin hari makin tipis sehingga mereka bertindak drastis dengan mengundang Daeng Azis untuk mendapatkan dukungannya tapi hal ini malah menimbulkan blunder baru.
Baca juga: Fakta-fakta Kelompok Rasis Serang Ahok ini Tampar Muka 'Aa Gym yang Sok Santun Protes Video #BeragamituAhokDjarot
Apakah ini yang dimaksud oleh Anies bahwa dia akan merangkul semua pihak? Bahkan sampai golongan Islam garis keras dan tokoh kemaksiatan pun dirangkul dalam kubunya? Kedua kubu ini dalam keadaan normal seharusnya tidak bisa dipersatukan, namun dalam Pilkada DKI ini mereka dipersatukan oleh satu kepentingan, yaitu menjatuhkan Ahok. Ternyata memang benar slogan yang satu ini : orang baik kumpulnya dengan orang baik, orang brengsek kumpulnya dengan orang brengsek. Silahkan pembaca yang menentukan sendiri, siapa yang termasuk orang baik dan siapa yang termasuk orang brengsek. (oleh: Tatsuya seword.com)
Pembelotan Relawan Anies-Sandiaga
Jika bulan lalu Ketua Ranting Gerindra Duren Sawit membelot ke Ahok-Djarot, kali ini relawan Anies-Sandiaga Pasar Rebo menyatakan bahwa mereka mengalihkan dukungan mereka kepada Ahok-Djarot. Pembelotan ini cukup serius karena menunjukkan keretakan di kalangan para pendukung Anies-Sandiaga, apalagi terjadi di hari-hari terakhir Pilkada DKI sehingga Anies-Sandiaga sulit menetralisir dampaknya. Terlihat dengan jelas sekali bahwa golongan nasionalis yang benci dengan penggunaan isu SARA sudah muak dengan cara-cara kampanye yang dilakukan oleh pasangan Anies-Sandiaga sehingga mengalihkan dukungan mereka. Apalagi sejak muncul isu Jakarta Bersyariah yang menyebabkan pertengkaran di internal pendukung Anies-Sandiaga, golongan nasionalis makin tidak nyaman untuk tetap berada di kubu Anies-Sandiaga.Dukungan PKB
Sandiaga tadinya sangat berharap PKB mengalihkan dukungannya dari AHY kepada pasangan Anies-Sandiaga. Setelah pemungutan suara tahap pertama selesai, sebenarnya Sandiaga sangat optimis terhadap pengalihan dukungan PKB kepada dirinya, karena sebelum penentuan calon Gubernur DKI diresmikan, awalnya PKB sudah ada tanda-tanda untuk ikut mengusung Sandiaga menjadi calon Gubernur DKI., Namun yang terjadi malah PKB mendeklarasikan dukungannya secara resmi kepada Ahok yang dilakukan tanggal 9 April. Di hadapan publik, Sandiaga bicara kalau arus bawah pendukung PKB tidak akan mempedulikan pengalihan dukungan PKB kepada Ahok dan tetap memilih Anies-Sandiaga. Jujur saja, sebagai warga awam, saya bisa merasakan betapa remuk hati Sandiaga hanya dari perkataannya ini. Bisa diibaratkan, Sandiaga pingin sekali tunangan dengan seorang wanita cantik, namun wanita itu malah langsung menikah dengan pria lainnya. Rasanya di belakang layar, Sandiaga berkata-kata seperti yang Rhoma Irama katakan : TERLALU.Sebenarnya arah dukungan PKB sudah jelas. Selama sebulan terakhir, kemesraan antara PKB dan Ahok sangat jelas terlihat. Apalagi sebelum PKB mendeklarasikan dukungannya kepada Ahok-Djarot secara resmi, GP Ansor sudah terlebih dahulu menyatakan dukungan mereka kepada Ahok-Djarot. Maka lengkaplah sudah, secara kelembagaan NU memang netral, namun organisasi-organisasi yang memiliki hubungan dengan NU cenderung mendukung Ahok-Djarot. Bahkan PPP versi Romi pun, walaupun belum secara resmi menyatakan dukungannya, memilih untuk memberikan dukungannya kepada Ahok-Djarot.
Blunder Lagi, Blunder lagi
Begitu PKB mengalihkan dukungan kepada Ahok, semua rencana tim sukses Anies-Sandiaga berantakan total. Dengan bergabungnya partai Islam ke pasangan Ahok-Djarot, isu penistaan agama menjadi sama sekali tidak relevan lagi. Bahkan penggunaan isu SARA yang digunakan oleh pendukungan Anies-Sandiaga yang tadinya menguntungkan Anies-Sandiaga sehingga mereka diam saja dan pura-pura tidak tahu, sekarang malah menjadi blunder dan momok yang menakutkan sendiri karena senjata yang dipikir mereka akan ampuh untuk menjatuhkan Ahok malah berbalik melawan mereka sendiri. Persis seperti saya ramalkan sebelumnya (https://seword.com/politik/kampanye-penolakan-mensholatkan-jenazah-bisa-menjadi-blunder-terbesar-anies), kampanye penolakan untuk mensholatkan jenazah pendukung Ahok menjadi blunder terbesar yang dilakukan pendukung Anies-Sandiaga dan titik balik isu SARA menjadi senjata yang menghabisi pencetusnya sendiri. Saat ini Anies dan Sandiaga mati-matian berusaha membantah bahwa pihak mereka tidak memainkan isu SARA dan malah menjadi korban fitnah, namun nasi sudah menjadi bubur. Rakyat Jakarta sudah tidak bisa ditipu lagi. Rakyat Jakarta sudah tahu siapa pelaku aslinya dan siapa korbannya.Merasa terpojok dengan gagalnya mendapat dukungan PKB, tim sukses Anies-Sandiaga mencari pengganti PKB, dan mereka mendapatkannya dari seorang Daeng Azis. Sekali lagi pasangan Anies-Sandiaga menciptakan blunder dengan mengundang Daeng Azis, mantan orang kuat di Kalijodo, untuk mengikuti kampanye Anies-Sandiaga. Sebelum Ahok mereformasi daerah Kalijodo, Daeng Azis adalah orang kuat yang ditakuti oleh banyak orang, termasuk pejabat. Bahkan ketika jabatan Gubernur DKI dipegang oleh seorang mantan jenderal pun Kalijodo tidak terusik. Padahal sudah lama Kalijodo terkenal sebagai dunia maksiatnya Jakarta. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh seorang Daeng Azis. Hanya Ahok yang berani mengusik ketenangan Daeng Azis, padahal sudah ada ancaman pembunuhan terhadap Ahok pun tidak dipedulikan. Memang benar kata orang, urat takutnya Ahok sudah putus, sampai mati pun dia rela untuk menjalankan amanah jabatannya.
Beda tim sukses, beda lagi pasangan Anies-Sandiaga. Ketika mereka melihat Daeng Azis, mereka kaget dan berusaha menghindar. Parahnya, tim suksesnya tidak mengerti hal itu, bahkan memperparah keadaan. Awalnya Daeng Aziz duduk di bagian belakang, namun beberapa relawan Anies-Sandiaga malah mengarahkan Daeng Azis untuk pindah ke bagian depan, tepat di hadapan Anies yang berada di panggung. Di atas panggung, Anies mengucapkan terima kasih kepada pendukungnya dan menyebutkan nama-nama tokoh masyarakat yang duduk di depan, kecuali Daeng Asiz. Ketika acara berakhir, lagi-lagi relawan Anies-Sandiaga memaksa Anies berfoto bersama Daeng Azis. Di akhir acara, Daeng Azis menyatakan dukungannya kepada Anies-Sandiaga. Klop deh, Anies mendapat tambahan dukungan, walaupun dia sendiri mungkin tidak suka dengan dukungan itu. Aneh kan? Yang lebih lucu lagi, ketika ditanya oleh wartawan, keduanya mengaku tidak tahu siapa siapa Daeng Azis itu. Suatu hal yang mustahil dan tidak masuk akal kalau Anies dan Sandiaga tidak tahu siapa itu Daeng Azis. Apalagi Daeng Azis terkenal dengan dendamnya terhadap Ahok karena menghabisi bisnis lendirnya di Kalijodo dan mengubahnya menjadi taman bermain yang ramah anak.
Baca juga: Ahok Sunan Kalijodo, Wali, dan Kedangkalan Berfikir Kaum 'Bumi Datar'
Jelas terlihat bahwa di dalam tim sukses Anies-Sandiaga timbul kepanikan karena dalam beberapa hari ini banyak kejadian yang sangat merugikan pasangan mereka. Tim sukses Anies-Sandiaga sadar bahwa peluang Anies-Sandiaga untuk menang makin hari makin tipis sehingga mereka bertindak drastis dengan mengundang Daeng Azis untuk mendapatkan dukungannya tapi hal ini malah menimbulkan blunder baru.
Baca juga: Fakta-fakta Kelompok Rasis Serang Ahok ini Tampar Muka 'Aa Gym yang Sok Santun Protes Video #BeragamituAhokDjarot
Apakah ini yang dimaksud oleh Anies bahwa dia akan merangkul semua pihak? Bahkan sampai golongan Islam garis keras dan tokoh kemaksiatan pun dirangkul dalam kubunya? Kedua kubu ini dalam keadaan normal seharusnya tidak bisa dipersatukan, namun dalam Pilkada DKI ini mereka dipersatukan oleh satu kepentingan, yaitu menjatuhkan Ahok. Ternyata memang benar slogan yang satu ini : orang baik kumpulnya dengan orang baik, orang brengsek kumpulnya dengan orang brengsek. Silahkan pembaca yang menentukan sendiri, siapa yang termasuk orang baik dan siapa yang termasuk orang brengsek. (oleh: Tatsuya seword.com)