FAKTA INDONESIA - Informasi Hoax dan fitnah tengah masif menerpa Ormasi Islam Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Serba Guna Ansor (...
FAKTA INDONESIA - Informasi Hoax dan fitnah tengah masif menerpa Ormasi Islam Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Serba Guna Ansor (Banser). Ya, itu bagian dari resiko pengabdian Ansor dan Banser dalam menjaga Kebhinekaan dan kedaulatan NKRI, dari berbagai macam gerakan pemecah belah bangsa.
Pada awal Maret 2017 misalnya, dengan gampang kemudian kita dapati sejumlah berita seputar miringnya aksi-aksi Banser, karena penghentian ceramah (bukan pengajian seperti yang banyak disebarkan) ustadz ekstrimis, Khalid Basalamah. Aksi Banser menghentikan ceramah ustadz ini tentu bukan tanpa alasan. Khalid Basalamah dengan pemahaman agama yang dia yakini, kerap menyalah-nyalahkan amaliah keberagamaan mayoritan orang Islam Indonesia. Khalid kerap memvonis bid'ah dan sesat ragam amaliah mereka. Tentu kebiasaannya ini menimbulkan keresahan di masyarakat khususnya di Jawa Timur yang amaliahnya disesat-sesatkan. Daripada menimbulkan gejolak, maka turunlah Banser menghentikan ceramah ustadz ini.
Hal lainnya sentuhan Banser dengan Ormas Hizbut Tahrir Indonesia Konvoi-konvoi dan kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di berbagai daerah dihentikan Ansor dan Banser bekerjasama dengan OKP dengan komitmen tinggi pada NKRI. Di Jawa Timur kegiatan-kegiatan HTI dihentikan, di Semarang kegiatan-kegiatan mengasong Khilafah dihentikan, di Kalimantan Barat juga demikian.
Di Makasar, masa HTI sempat mau bentrok dengan Banser, karena ada dukungan tenaga dari FPI.
Hizbut Tahrir atau HTI yang jelas punya agenda ingin mengganti sistem demokrasi, dasar negara, dan konstitusi Indonesia dengan Khilafah Islamiyah kegiatannya selalu digagalkan oleh Banser yang menggandeng OKP lain dengan semangat menjaga NKRI. Sayangnya di wilayah Jabar, di beberapa tempat HTI berhasil mengadakan kegiatan meski jelas agenda mereka merongrong kedaulatan NKRI tapi tetap saja Gubernur Ahmad Heryawan memberi mereka angin segar.
Yang paling hangat tentu kiprah GP-Ansor dan Banser di DKI. Posisi GP Ansor yang tidak mau merapat ke pendukung Gubernur Muslim, malah cenderung dekat dengan pasangan petahana semakin menjadikan serangan hoax dan fitnah menguat. Meski jelas, GP Ansor memandang bahwa pilihan-pilihan politik di Jakarta harus dihormati, mau pilih Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi, bagi Ansor sah-sah saja dan dilindungi hukum dalam bingkai negara demokratis seperti Indonesia. Intimidasi dan pemasungan hak pilih merupakan tindakan semena-mena dan bentuk kedzaliman atas nama agama, itu yang dilawan GP Ansor dan Banser. Untuk itu posisinya kerap dianggap berseberangan dengan FPI cs. Tentu misalnya soal pelarangan menshalati jenazah pendukung AHOK-Djarot, yang GP Ansor nilai sebagai bentuk Intimidasi dan bersifat SARA. Akhirnya Ansor turun dan mengumumkan barangsiapa yang jenazahnya atau jenazah keluarganya tidak ada yang mau mengurus karena mendukung AHOK, Ansor siap menshalati dan merawat jenazahnya.
Tentu ini bukan pilihan strategis bagi sebuah organisasi Islam di tengah derasnya arus besar yang bersikukuh AHOK menista agama meski pada dasarnya muatan politislah, pernyataan itu kemudian diamini oleh jutaan umat Islam. Dengan mudah orang akan memvonis munafik karena dianggap berteman dengan orang yang dianggap menista agama, bahkan sesat dan halal darahnya. Banyak orang akhirnya juga mengamini sikap orang-orang yang dengan bangga ikut aksi berjilid-jilid hanya untuk meyakinkan orang bahwa AHOK menista Islam meski tak ada muatan sentimen negatif pada Islam. Mustinya kalau mau menyalahkan, salahkan partai-partai Islam yang punya standar ganda dalam mengamalkan pemahaman haramnya memilih pemimpin non muslim. Di satu sisi membolehkan memilih pemimpin non muslim di tempat lain, bahkan mendukung pasangan calon non muslim itu, dan di sisi lain haram bagi umat Islam memilih AHOK sebagai pemimpin karena non muslim, lama sebelum pencalonan Gubernur DKI dilaksanakan. Khususnya partai Islam yang sama sekali tidak membuka penafsiran lain dari Al-Maidah 51, hanya ada satu penafsiran bahwa memilih pemimpin non Islam adalah HARAM. Inilah ketidakkonsistenan partai-partai Islam itu, yang menumbuhkan kesadaran pada AHOK, bahwa ada politisi yang mempermainkan ayat untuk kepentingan politik mereka.
Setidaknya hal-hal itulah yang menguatkan sentimen kebencian pada Ansor dan Banser, yang notabene oleh mereka yang mengaku paling Islami.
Menghadapi kondisi itu kemudian Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Coumas mengeluarkan pernyataan sikap terkait Fitnah dan Hoak yang menyerang ANSOR, pada Selasa, (18/04/2017). Selengkapnya pernyataan sikap GP Ansor:
PERNYATAAN SIKAP GP ANSOR TERKAIT FITNAH, BERITA BOHONG DAN PROVOKASI TERHADAP ANSOR MAUPUN BANSER
GP Ansor perlu menyatakan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis dan pemantauan berita dan sosial media yang dilakukan di War Room Ansor, GP Ansor menemukan fakta-fakta adanya fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap Ansor maupun Banser, terutama sejak GP Ansor dengan tegas menolak penyebaran ideologi HTI yang ingin merubah Pancasila, maupun ketegasan sikap GP Ansor untuk tidak mendukung siapa pun yang selingkuh dengan kelompok radikal.
2. GP Ansor menegaskan bahwa kami bukanlah organisasi politik, da dengan tegaknya nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, keutuhan NKRI, dan martabat konstitusi kita.
3. GP Ansor merasakan bahwa fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap sahabat-sahabat Ansor maupun Banser, baik individu maupun organisasi semakin menggila menjelang Pilkada DKI ini, di mana fitnah, berita bohong dan provokasi itu berupa perobekan spanduk penolakan GP Ansor terhadap HTI - yang juga disebar di sosial media, berita bohong bahwa ada Ketua Cabang Ansor yang mengundurkan diri untuk kemudian memilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah FPI, dan terakhir, terkait berita bohong - yang berawal dari fitnah di sosial media bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser melakukan penyerangan terhadap rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi.
4. GP Ansor menyatakan kekecewaan yang mendalam, mengutuk dan mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap media-media yang secara khusus menyebarkan berita bohong terkait penyerangan rumah Ketua FPI DKI Jakarta, karena berita tersebut tidak sesuai dengan etika dan kaidah jurnalistik yang berimbang (cover both sides) dan hanya mengutip cuitan sepihak di twitter tanpa verifikasi yang ketat.
5. GP Ansor sekali menegaskan bahwa TIDAK BENAR, sahabat-sahabat Banser menyerang rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi, dan menilai bahwa itu fitnah dan upaya adu domba untuk membuat Jakarta tidak kondusif menghadapi Pilkada esok hari.
6. GP Ansor memandang perlu untuk memberikan klarifikasi bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser dini hari tadi sekitar jam 1 pagi, baru saja selesai melakukan Rapat Pleno di Konferensi Besar di Markas GP Ansor, dan mendapatkan laporan bahwa rumah cucu perempuan KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU dan juga Pahlawan Nasional, dikepung oleh gerombolan orang tak dikenal, namun patut diduga dari atribut-atribut yang dipakai berasal dari FPI.
7. GP Ansor berdasarkan laporan tersebut, sahabat-sahabat Banser di bawah koordinasi sahabat Ibadullah (Komandan Banser Riau) didampingi oleh aparat Kepoolisian melakukan pengawalan dan pendampingan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, yang dini hari itu menyelamatkan diri di Kantor Polres Jakarta Pusat untuk menghindarkan diri dari intimidasi dan hal-hal yang tak diinginkan, khususnya pasca adanya fitnah yang keji bahwa beliau membagi sembako sejak kemarin sore, agar bisa pulang kembali ke rumahnya dengan selamat.
8. GP Ansor perlu menegaskan bahwa saat pengawalan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, tidak ada seorang pun anggota Banser yang menyadari dan mengetahui bahwa di dekat lokasi tersebut ada markas atau rumah Ketua FPI Jakarta, maka sangatlah tidak mungkin sahabat-sahabat Banser melakukan serangan, hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Polda Metro Jaya bahwa tidak ada serangan terhadap Rumah Ketua FPI DKI (https://metro.sindonews.com/read/1198036/170/polda-metro-jaya-sebut-tak-ada-penyerangan-ke-rumah-ketua-fpi-dki-1492491413) bahkan justru sebaliknya, sahabat-sahabat Banser justru diserang membabi buta dengan lemparan batu dan lain-lainnya, hingga akhirnya cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang mengawal beliau justru terpaksa terperangkap di dalam salah satu rumah di Gang Kramat Lontar tersebut selama kurang lebih satu jam.
9. GP Ansor memandang bahwa evakuasi perlu dilakukan segera untuk menyelamatkan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang terperangkap tersebut, dengan cara berkoordinasi dengan pihak Kepolisian setempat, dan bukan dengan pengerahan massa serta main hakim sendiri.
10. GP Ansor sekali lagi menegaskan dan menyerukan kepada seluruh sahabat-sahabat anggota, kader maupun pengurus Ansor dan Banser untuk siaga satu komando, tetap mencintai republik ini, mengawal Pancasila dan kebhinnekaan, serta tidak tinggal diam terhadap semua fitnah, berita bohong dan fitnah.
Pada awal Maret 2017 misalnya, dengan gampang kemudian kita dapati sejumlah berita seputar miringnya aksi-aksi Banser, karena penghentian ceramah (bukan pengajian seperti yang banyak disebarkan) ustadz ekstrimis, Khalid Basalamah. Aksi Banser menghentikan ceramah ustadz ini tentu bukan tanpa alasan. Khalid Basalamah dengan pemahaman agama yang dia yakini, kerap menyalah-nyalahkan amaliah keberagamaan mayoritan orang Islam Indonesia. Khalid kerap memvonis bid'ah dan sesat ragam amaliah mereka. Tentu kebiasaannya ini menimbulkan keresahan di masyarakat khususnya di Jawa Timur yang amaliahnya disesat-sesatkan. Daripada menimbulkan gejolak, maka turunlah Banser menghentikan ceramah ustadz ini.
Hal lainnya sentuhan Banser dengan Ormas Hizbut Tahrir Indonesia Konvoi-konvoi dan kegiatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di berbagai daerah dihentikan Ansor dan Banser bekerjasama dengan OKP dengan komitmen tinggi pada NKRI. Di Jawa Timur kegiatan-kegiatan HTI dihentikan, di Semarang kegiatan-kegiatan mengasong Khilafah dihentikan, di Kalimantan Barat juga demikian.
Di Makasar, masa HTI sempat mau bentrok dengan Banser, karena ada dukungan tenaga dari FPI.
Hizbut Tahrir atau HTI yang jelas punya agenda ingin mengganti sistem demokrasi, dasar negara, dan konstitusi Indonesia dengan Khilafah Islamiyah kegiatannya selalu digagalkan oleh Banser yang menggandeng OKP lain dengan semangat menjaga NKRI. Sayangnya di wilayah Jabar, di beberapa tempat HTI berhasil mengadakan kegiatan meski jelas agenda mereka merongrong kedaulatan NKRI tapi tetap saja Gubernur Ahmad Heryawan memberi mereka angin segar.
Yang paling hangat tentu kiprah GP-Ansor dan Banser di DKI. Posisi GP Ansor yang tidak mau merapat ke pendukung Gubernur Muslim, malah cenderung dekat dengan pasangan petahana semakin menjadikan serangan hoax dan fitnah menguat. Meski jelas, GP Ansor memandang bahwa pilihan-pilihan politik di Jakarta harus dihormati, mau pilih Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi, bagi Ansor sah-sah saja dan dilindungi hukum dalam bingkai negara demokratis seperti Indonesia. Intimidasi dan pemasungan hak pilih merupakan tindakan semena-mena dan bentuk kedzaliman atas nama agama, itu yang dilawan GP Ansor dan Banser. Untuk itu posisinya kerap dianggap berseberangan dengan FPI cs. Tentu misalnya soal pelarangan menshalati jenazah pendukung AHOK-Djarot, yang GP Ansor nilai sebagai bentuk Intimidasi dan bersifat SARA. Akhirnya Ansor turun dan mengumumkan barangsiapa yang jenazahnya atau jenazah keluarganya tidak ada yang mau mengurus karena mendukung AHOK, Ansor siap menshalati dan merawat jenazahnya.
Tentu ini bukan pilihan strategis bagi sebuah organisasi Islam di tengah derasnya arus besar yang bersikukuh AHOK menista agama meski pada dasarnya muatan politislah, pernyataan itu kemudian diamini oleh jutaan umat Islam. Dengan mudah orang akan memvonis munafik karena dianggap berteman dengan orang yang dianggap menista agama, bahkan sesat dan halal darahnya. Banyak orang akhirnya juga mengamini sikap orang-orang yang dengan bangga ikut aksi berjilid-jilid hanya untuk meyakinkan orang bahwa AHOK menista Islam meski tak ada muatan sentimen negatif pada Islam. Mustinya kalau mau menyalahkan, salahkan partai-partai Islam yang punya standar ganda dalam mengamalkan pemahaman haramnya memilih pemimpin non muslim. Di satu sisi membolehkan memilih pemimpin non muslim di tempat lain, bahkan mendukung pasangan calon non muslim itu, dan di sisi lain haram bagi umat Islam memilih AHOK sebagai pemimpin karena non muslim, lama sebelum pencalonan Gubernur DKI dilaksanakan. Khususnya partai Islam yang sama sekali tidak membuka penafsiran lain dari Al-Maidah 51, hanya ada satu penafsiran bahwa memilih pemimpin non Islam adalah HARAM. Inilah ketidakkonsistenan partai-partai Islam itu, yang menumbuhkan kesadaran pada AHOK, bahwa ada politisi yang mempermainkan ayat untuk kepentingan politik mereka.
Setidaknya hal-hal itulah yang menguatkan sentimen kebencian pada Ansor dan Banser, yang notabene oleh mereka yang mengaku paling Islami.
Menghadapi kondisi itu kemudian Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Coumas mengeluarkan pernyataan sikap terkait Fitnah dan Hoak yang menyerang ANSOR, pada Selasa, (18/04/2017). Selengkapnya pernyataan sikap GP Ansor:
PERNYATAAN SIKAP GP ANSOR TERKAIT FITNAH, BERITA BOHONG DAN PROVOKASI TERHADAP ANSOR MAUPUN BANSER
GP Ansor perlu menyatakan sebagai berikut:
1. Berdasarkan analisis dan pemantauan berita dan sosial media yang dilakukan di War Room Ansor, GP Ansor menemukan fakta-fakta adanya fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap Ansor maupun Banser, terutama sejak GP Ansor dengan tegas menolak penyebaran ideologi HTI yang ingin merubah Pancasila, maupun ketegasan sikap GP Ansor untuk tidak mendukung siapa pun yang selingkuh dengan kelompok radikal.
2. GP Ansor menegaskan bahwa kami bukanlah organisasi politik, da dengan tegaknya nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, keutuhan NKRI, dan martabat konstitusi kita.
3. GP Ansor merasakan bahwa fitnah, berita bohong dan provokasi terhadap sahabat-sahabat Ansor maupun Banser, baik individu maupun organisasi semakin menggila menjelang Pilkada DKI ini, di mana fitnah, berita bohong dan provokasi itu berupa perobekan spanduk penolakan GP Ansor terhadap HTI - yang juga disebar di sosial media, berita bohong bahwa ada Ketua Cabang Ansor yang mengundurkan diri untuk kemudian memilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah FPI, dan terakhir, terkait berita bohong - yang berawal dari fitnah di sosial media bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser melakukan penyerangan terhadap rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi.
4. GP Ansor menyatakan kekecewaan yang mendalam, mengutuk dan mempertimbangkan untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap media-media yang secara khusus menyebarkan berita bohong terkait penyerangan rumah Ketua FPI DKI Jakarta, karena berita tersebut tidak sesuai dengan etika dan kaidah jurnalistik yang berimbang (cover both sides) dan hanya mengutip cuitan sepihak di twitter tanpa verifikasi yang ketat.
5. GP Ansor sekali menegaskan bahwa TIDAK BENAR, sahabat-sahabat Banser menyerang rumah Ketua FPI DKI Jakarta dini hari tadi, dan menilai bahwa itu fitnah dan upaya adu domba untuk membuat Jakarta tidak kondusif menghadapi Pilkada esok hari.
6. GP Ansor memandang perlu untuk memberikan klarifikasi bahwa sahabat-sahabat Ansor dan Banser dini hari tadi sekitar jam 1 pagi, baru saja selesai melakukan Rapat Pleno di Konferensi Besar di Markas GP Ansor, dan mendapatkan laporan bahwa rumah cucu perempuan KH Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU dan juga Pahlawan Nasional, dikepung oleh gerombolan orang tak dikenal, namun patut diduga dari atribut-atribut yang dipakai berasal dari FPI.
7. GP Ansor berdasarkan laporan tersebut, sahabat-sahabat Banser di bawah koordinasi sahabat Ibadullah (Komandan Banser Riau) didampingi oleh aparat Kepoolisian melakukan pengawalan dan pendampingan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, yang dini hari itu menyelamatkan diri di Kantor Polres Jakarta Pusat untuk menghindarkan diri dari intimidasi dan hal-hal yang tak diinginkan, khususnya pasca adanya fitnah yang keji bahwa beliau membagi sembako sejak kemarin sore, agar bisa pulang kembali ke rumahnya dengan selamat.
8. GP Ansor perlu menegaskan bahwa saat pengawalan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah tersebut, tidak ada seorang pun anggota Banser yang menyadari dan mengetahui bahwa di dekat lokasi tersebut ada markas atau rumah Ketua FPI Jakarta, maka sangatlah tidak mungkin sahabat-sahabat Banser melakukan serangan, hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Polda Metro Jaya bahwa tidak ada serangan terhadap Rumah Ketua FPI DKI (https://metro.sindonews.com/read/1198036/170/polda-metro-jaya-sebut-tak-ada-penyerangan-ke-rumah-ketua-fpi-dki-1492491413) bahkan justru sebaliknya, sahabat-sahabat Banser justru diserang membabi buta dengan lemparan batu dan lain-lainnya, hingga akhirnya cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang mengawal beliau justru terpaksa terperangkap di dalam salah satu rumah di Gang Kramat Lontar tersebut selama kurang lebih satu jam.
9. GP Ansor memandang bahwa evakuasi perlu dilakukan segera untuk menyelamatkan cucu perempuan KH Wahab Chasbullah dan sahabat-sahabat Banser yang terperangkap tersebut, dengan cara berkoordinasi dengan pihak Kepolisian setempat, dan bukan dengan pengerahan massa serta main hakim sendiri.
10. GP Ansor sekali lagi menegaskan dan menyerukan kepada seluruh sahabat-sahabat anggota, kader maupun pengurus Ansor dan Banser untuk siaga satu komando, tetap mencintai republik ini, mengawal Pancasila dan kebhinnekaan, serta tidak tinggal diam terhadap semua fitnah, berita bohong dan fitnah.