FAKTA INDONESIA - Pernyataan Djarot menegaskan kapasitas apa yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin di Indonesia, terlebih khusus buat seor...
FAKTA INDONESIA - Pernyataan Djarot menegaskan kapasitas apa yang seharusnya dimiliki oleh pemimpin di Indonesia, terlebih khusus buat seorang Kepala Daerah. Pada kesempatan menjelang hari pemilihan putaran kedua, Djarot mengeluarkan pernyataan yang penting untuk menyadarkan pemilih di Jakarta. Meski pernyataannya akan dikaitkan dengan kepentingan politiknya untuk terpilih bersama Ahok, tetapi menarik mengomentari makna penting yang disampaikan Djarot.
Di sela-sela kampanyenya menjelang hari pemilihan, dia menyampaikan satu kalimat yang mengena dan langsung menusuk terhadap apa yang selalu dipertontonkan rivalnya pada Pilkada DKI kali ini.
Dikutip dari tempo.co, begini pernyataan Djarot:
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat meminta kepada warga Jakarta untuk memberi kepercayaan kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk kembali memimpin Jakarta. Menurut Djarot, calon inkumben dalam Pilkada DKI itu telah membuktikan diri mampu membenahi Jakarta. “Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata,” ujar Djarot di Gedung Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, Jumat, 14 April 2017.
Djarot mengimbau kepada pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pencoblosan 19 April mendatang. Mereka diminta tidak takut menentukan pilihan sesuai hati nurani. “Jangan takut, TPS dijaga aparat. Jangan marah karena Anda akan aman,” katanya.
Menurut Djarot, pihaknya sudah beberapa kali mendapatkan intimidasi selama masa kampanye. Namun, ia meminta kepada pendukungnya untuk tetap menghormati pilihan orang lain. Djarot berpesan meski berbeda pilihan, Pilkada harus tetap berjalan aman dan damai.
“Sabar, hadapi mereka dengan senyum tulus dan doakan mereka semua saudara. Mungkin beda pilihan, tapi ingat mereka saudara. Jangan dendam dan benci. Yang benar katakan benar, manfaat katakan manfaat, terbukti katakan terbukti,” ujar Djarot (sumber https://pilkada.tempo.co/read/news/2017/04/14/348866167/djarot-jakarta-butuh-penata-kota-bukan-jago-kata-kata).
Coba kita ulangi sekali lagi “Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata”. Mengapa ini penting untuk ditekankan? Tidak ada alasan lain selain kita menghindari kesalahan di masa lalu.
Sudah sekian lama kita pernah dibohongi oleh politikus-politikus yang pintar berkata-kata, manis bersandiwara, gampang berjanji, menunjukan kesantunan yang tiada taranya, dan tampil seperti sosok pahlawan yang akan membereskan semua masalah. Namun setelah terpilih, janji tinggal janji. Kita pastinya tidak ingin mengulangi itu lagi.
Rakyat sudah belajar dan melihat apa yang telah dipertontonkan oleh orang seperti ini selama ini. Rakyat sudah muak dengan segala tipu daya kata-kata yang manis, tetapi berbisa. Pada akhirnya rakyat akan melihat hasil kerja nyata. Sebab, seburuk apapun dikatakan tentang seorang yang telah bekerja nyata dan memberikan keadilan, maka mata hati rakyat tidak akan bisa berbohong.
Sekalipun dia disebut kafir, penista agama, tidak santun, arrogant, dan sebagainya. Hati nurani tidak akan berbohong. Tuhan sudah begitu baik memberikan hati nurani untuk setiap orang. Sekalipun ada banyak perbedaan dalam sejarah manusia, mulai dari perbedaan dari suku, agama, ras, budaya dan sebagainya. Tetapi Tuhan Maha Adil. Tuhan memberikan satu keadilan yang berlaku universal buat seluruh umat manusia untuk bisa mencintai sesama, yaitu hati nurani. Disitulah salah satu letak keadilan Tuhan.
Kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan di suku ini atau dilahirkan di keluarga beragama itu,tetapi yang jelas semua itu mempunyai benang merah di dalam hati nurani setiap manusia. Itulah yang seharusnya membuat manusia menjadi mahkluk yang saling mencintai.
Pilkada DKI kita telah melihat perbedaan bagi kaum bumi datar sebegitu mengerikan. Kafir mengkafirkan menjadi senjata untuk saling menyerang akibat perbedaan pilihan politik. Bahkan lebih tragisnya, Djarot yang merupakan seorang Haji harus diusir dari rumah ibadah. Selain karena dia seorang Calon Wakil Gubernur dan berstatus sebagai Wakil Gubernur non aktif sementara, masakah dia harus mendapatkan itu? Sebuah tindakan yang tidak seharusnya.
Kembali kepada apa yang disampaikan Djarot sebaga aksinya membungkam para kaum munafikun dengan kata-kata manisnya, Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata. Itu memang fakta kalau kita ingin melangkah lebih jauh dalam mensejahterakan bangsa kita.
Kalau untuk seorang motivator, kemampuan merangkai kata-kata memang dibutuhkan. Tetapi untuk seorang kepala daerah? Hentikan saja wacana ini. Kalaupun nantinya dia terpilih hanya karena kemampuan ini, maka bersiaplah senjata makan tuan.
Salam Indonesia Jangan Diam
Oleh: Junaidi, Seword.com
Di sela-sela kampanyenya menjelang hari pemilihan, dia menyampaikan satu kalimat yang mengena dan langsung menusuk terhadap apa yang selalu dipertontonkan rivalnya pada Pilkada DKI kali ini.
Dikutip dari tempo.co, begini pernyataan Djarot:
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua Djarot Saiful Hidayat meminta kepada warga Jakarta untuk memberi kepercayaan kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk kembali memimpin Jakarta. Menurut Djarot, calon inkumben dalam Pilkada DKI itu telah membuktikan diri mampu membenahi Jakarta. “Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata,” ujar Djarot di Gedung Olahraga Ciracas, Jakarta Timur, Jumat, 14 April 2017.
Djarot mengimbau kepada pendukungnya untuk datang ke tempat pemungutan suara (TPS) pada hari pencoblosan 19 April mendatang. Mereka diminta tidak takut menentukan pilihan sesuai hati nurani. “Jangan takut, TPS dijaga aparat. Jangan marah karena Anda akan aman,” katanya.
Menurut Djarot, pihaknya sudah beberapa kali mendapatkan intimidasi selama masa kampanye. Namun, ia meminta kepada pendukungnya untuk tetap menghormati pilihan orang lain. Djarot berpesan meski berbeda pilihan, Pilkada harus tetap berjalan aman dan damai.
“Sabar, hadapi mereka dengan senyum tulus dan doakan mereka semua saudara. Mungkin beda pilihan, tapi ingat mereka saudara. Jangan dendam dan benci. Yang benar katakan benar, manfaat katakan manfaat, terbukti katakan terbukti,” ujar Djarot (sumber https://pilkada.tempo.co/read/news/2017/04/14/348866167/djarot-jakarta-butuh-penata-kota-bukan-jago-kata-kata).
Coba kita ulangi sekali lagi “Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata”. Mengapa ini penting untuk ditekankan? Tidak ada alasan lain selain kita menghindari kesalahan di masa lalu.
Sudah sekian lama kita pernah dibohongi oleh politikus-politikus yang pintar berkata-kata, manis bersandiwara, gampang berjanji, menunjukan kesantunan yang tiada taranya, dan tampil seperti sosok pahlawan yang akan membereskan semua masalah. Namun setelah terpilih, janji tinggal janji. Kita pastinya tidak ingin mengulangi itu lagi.
Rakyat sudah belajar dan melihat apa yang telah dipertontonkan oleh orang seperti ini selama ini. Rakyat sudah muak dengan segala tipu daya kata-kata yang manis, tetapi berbisa. Pada akhirnya rakyat akan melihat hasil kerja nyata. Sebab, seburuk apapun dikatakan tentang seorang yang telah bekerja nyata dan memberikan keadilan, maka mata hati rakyat tidak akan bisa berbohong.
Sekalipun dia disebut kafir, penista agama, tidak santun, arrogant, dan sebagainya. Hati nurani tidak akan berbohong. Tuhan sudah begitu baik memberikan hati nurani untuk setiap orang. Sekalipun ada banyak perbedaan dalam sejarah manusia, mulai dari perbedaan dari suku, agama, ras, budaya dan sebagainya. Tetapi Tuhan Maha Adil. Tuhan memberikan satu keadilan yang berlaku universal buat seluruh umat manusia untuk bisa mencintai sesama, yaitu hati nurani. Disitulah salah satu letak keadilan Tuhan.
Kita tidak tahu mengapa kita dilahirkan di suku ini atau dilahirkan di keluarga beragama itu,tetapi yang jelas semua itu mempunyai benang merah di dalam hati nurani setiap manusia. Itulah yang seharusnya membuat manusia menjadi mahkluk yang saling mencintai.
Pilkada DKI kita telah melihat perbedaan bagi kaum bumi datar sebegitu mengerikan. Kafir mengkafirkan menjadi senjata untuk saling menyerang akibat perbedaan pilihan politik. Bahkan lebih tragisnya, Djarot yang merupakan seorang Haji harus diusir dari rumah ibadah. Selain karena dia seorang Calon Wakil Gubernur dan berstatus sebagai Wakil Gubernur non aktif sementara, masakah dia harus mendapatkan itu? Sebuah tindakan yang tidak seharusnya.
Kembali kepada apa yang disampaikan Djarot sebaga aksinya membungkam para kaum munafikun dengan kata-kata manisnya, Jakarta membutuhkan orang yang benar bekerja untuk menata kota, bukan sekedar pandai merangkai kata-kata. Itu memang fakta kalau kita ingin melangkah lebih jauh dalam mensejahterakan bangsa kita.
Kalau untuk seorang motivator, kemampuan merangkai kata-kata memang dibutuhkan. Tetapi untuk seorang kepala daerah? Hentikan saja wacana ini. Kalaupun nantinya dia terpilih hanya karena kemampuan ini, maka bersiaplah senjata makan tuan.
Salam Indonesia Jangan Diam
Oleh: Junaidi, Seword.com