FAKTA INDONESIA - Bukti persahabatan Ahok dan Islam telah ada di Jakarta, termasuk di antaranya membangun masjid raya. Menariknya lagi, Aho...
FAKTA INDONESIA - Bukti persahabatan Ahok dan Islam telah ada di Jakarta, termasuk di antaranya membangun masjid raya. Menariknya lagi, Ahok memberi nama masjid raya Jakarta dengan “Masjid KH. Hasyim Asy’ari.” Kedekatan lainnya bisa kita kembali ingat Ahok mendapatkan amanah pesan kebangsaan Cak Nur ketika berkunjung di kediaman guru bangsa itu.
Selain itu, Ahok juga begitu terinspirasi dari sosok Gus Dur. Bapak pluralisme ini menjadi salah satu ulama moderat yang diidolakan Ahok. Kedekatan Ahok dengan Gus Dur bisa kita temui melalui nilai-nilai yang dirawat oleh Ahok. Ahok begitu tegas menyatakan pentingnya menjaga toleransi, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Begitu pula, Buya Syafii Ma’arif, salah satu tokoh intelektual Muhammadiyah. Buya tidak pernah menyebut Ahok menghina al-Qur’an. Ahok dalam pandangan ulama moderat mewarisi pemikiran-pemikiran keindonesiaan. Tujuannya jelas, untuk menjaga kerukunan umat beragama.
Ahok sangat menghormati para ulama moderat. Ahok banyak belajar pentingnya toleransi dan kerukunan melalui para ulama. Buktinya hingga saat ini tidak ada ulama moderat yang bersikap sinis terhadapnya. Minimal mereka mendoakan Ahok. Memang penilaian berdasarkan demokrasi bukan pada agamanya, melainkan kebaikan untuk semua orang.
Ulama yang banyak menentang Ahok mayoritas adalah mereka pemimpin kelompok Islam garis keras. Sudah berkali-kali mereka menggerakkan massa untuk menyerang Ahok. Bahkan tidak sedikit wacana yang mengatakan bukan sekadar Ahok namun hingga dugaan pemufakatan makar.
Kelompok penentang Ahok pasti mempermasalahkan soal beda agama. Pada akhirnya mempolitisasi agama untuk tidak memilih pemimpin non-muslim. Kasus penistaan agama menjadi pintu gerbang untuk menyerang dan menjatuhkan Ahok. Bahkan melalui dugaan kasus ini kelompok intoleran mencoba menjadikan Jakarta bersyariat.
Ahok lebih dekat dengan ulama moderat. Bahkan Ahok banyak belajar tentang apa itu Islam rahmatan lil alamin. Sebagai pejabat non-muslim, Ahok telah membuktikan seperti apa menjalin toleransi secara hangat dalam perbedaan keyakinan.
Ulama moderat Indonesia sinergi dalam nilai-nilai kebangsaan. Tujuannya untuk merawat Pancasila dan memperjuangkan kebhinnekaan. Perbedaan adalah kekuatan. Melalui keragaman agama, bahasa, dan budaya, Indonesia didirikan. Dan inilah alasan kenapa memperjuangkan kebhinnekaan itu penting.
Persoalan Jakarta kini semakin rumit dalam proses Pilkada. Politik dan agama berada dalam kabur makna. Ulama moderat pun tidak diam. Ikhtiar (usaha) para ulama moderat pun selalu dilakukan untuk menjaga stabilitas agama sekaligus politik. Bahkan kuatnya pengaruh politik Jakarta, ulama moderat sudah pasti berikhtiar merawat sekaligus merawat kebhinnekaan demi NKRI.
Ulama moderat Indonesia paham situsasi politik di Jakarta. Kasusnya Ahok dalam dugaan penistaan agama jelas bernuansa politik. Tujuan intinya adalah memberhentikan Ahok sebagai Gubernur dan calon gubernur. Namun kenyataanya lebih berbahaya, kelompok anti-Pancasila juga ikut-ikutan menggunakan kesempatan demi memuluskan niatan ide khilafah di Indonesia.
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan ormas Islam terbesar pengawal NKRI. Keberadaan NU di Indonesia menjadi benteng masuknya ideologi khilafah (anti-Pancasila). NU adalah ormas yang berikrar turut serta memperjuangkan Indonesia, menjaga kedaulatan bangsa. Para kiai NU hingga santri, komitmen, bahwa menjaga kebangsaaan adalah bagian dari iman.
Kemarin (10/04/2017) Ahok bersama Djarot sowan kepada PBNU. Meskipun Ahok mengaku datang karena ajakan Djarot, selama ini memang Ahok sangat dekat dengan tokoh-tokoh NU. Dalam kunjungan ini, Ahok-Djarot mengadakan komunikasi ala santri, memang Djarot merupakan salah satu kader NU. Komunikasi ini menjadi sinyal hubungan baik Ahok dengan tokoh-tokoh moderat di Indonesia.
Melalui kunjungan ini, Ahok-Djarot mendapatkan restu dan doa dari ulama NU. Meskipun bukan berbentuk dukungan politik, basis NU memang memiliki pengaruh besar dalam peta politik, baik Jakarta maupun skala nasional. Namun restu dan doa dari ulama NU cukup menjadi gambaran positif bagi Jakarta dipimpin oleh pemimpin moderat dan toleran.
NU memang tidak pernah menyatakan sikap dalam memberikan dukungan. Namun basis NU selalu menolak kelompok garis keras, intoleran, anti-Pancasila dan pendukung khilafah. NU selalu mendukung bagi terbangunnya kerukunan, toleransi, dan kebangsaan. Hal ini sesuai dengan misi umat NU yang berdasar pada manhaji aswaja, dengan mengedepankan sikap moderat dan toleran.
Jakarta membutuhkan pemimpin moderat. Dengan melihat daruratnya situasi keamanan nasional, Jakarta mesti menjadi contoh bagaimana kebhinnekaan itu dirawat. Selain itu, Jakarta juga menjadi gerbang bagi politik nasional, maka kewaspadaan perlu dipertegas. Tujuannya untuk membentengi Jakarta dikuasai oleh kelompok intoleran anti-Pancasila.
Restu ulama NU untuk Ahok menjadi dukungan moral. Bahwa masih ada harapan Jakarta dipimpin oleh pemimpin moderan dan toleran. Kontestasi politik di Jakarta bukan soal agama, namun soal keadilan, demokrasi, dan secara nasional masa depan kebhinekaan.
Memilih pemimpin adalah soal kebaikan. Siapa yang menebarkan kebaikan untuk semua orang, untuk tanah airnya, apapun agamanya, itu tidak penting. Yang paling penting adalah kebaikannya untuk banyak orang.
Seperti kata Gus Dur, “Tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu”. Jadi, memilih pemimpin bukan soal agama, namun soal kebaikan untuk semua orang. (oleh: Abhiyasa, qureta.com)