Sekali Lagi Soal Ahok, Menista Langit: Tanggapan untuk Amien Rais

Amien Rais Oleh: Abdillah Toha Beberapa hari lalu Amien Rais (AR) menulis di Harian ini (Republika 28/10) dengan judul "Bung Jokowi, Se...

Amien Rais
Oleh: Abdillah Toha

Beberapa hari lalu Amien Rais (AR) menulis di Harian ini (Republika 28/10) dengan judul "Bung Jokowi, Selesaikan Skandal Ahok". Menurutnya, ada dua jenis penistaan. Menista yang berdimensi duniawi dan menista langit. Antara lain AR menulis hal-hal berikut:

"Ketika hukum dilaksanakan secara tebang-pilih atau diskriminatif, rakyat marah, tetapi tetap tidak bergerak. Ketika korupsi berskala raksasa jelas-jelas dilindungi, sejak dari skandal BLBI, Bank Century, deforestasi (penghancuran hutan), sampai yang terbaru skandal Sumber Waras dan reklamasi Teluk Jakarta, rakyat hanya berkeluh-kesah, geram, marah, nyaris putus asa. Tetapi mereka tidak bergerak. Sabar dan tetap sabar."

"Nah, Bung Jokowi, kasus Ahok merupakan skandal dari jenis yang sangat berbeda. Berbagai skandal yang saya sebutkan di atas, cuma skandal berdimensi dunia, walaupun sangat menohok rasa keadilan rakyat."

"Bung Jokowi, kasus Ahok mengguncangkan Indonesia karena Ahok sudah menyodok kesucian langit. Ahok sudah benar-benar kelewatan."

Di awal tulisannya, AR mengatakan, "Saya, sebagai seorang Muslim, sangat-sangat tersinggung dan terhina dengan ucapan Ahok bahwa ayat 51 Surah al-Maidah digunakan untuk membohongi masyarakat." Kemudian AR mewanti-wanti Jokowi agar segera turun tangan, atau menghadapi situasi yang bisa "menjadi bom waktu yang daya ledak sosial-politiknya dapat mengguncangkan sendi-sendi stabilitas nasional dan persatuan bangsa."

Tulisan ini tidak akan membahas apakah Ahok benar bermaksud menghina Islam dan kitab sucinya Alquran atau tidak, karena ada paling sedikit dua pendapat yang berbeda. Juga penulis tidak akan masuk ke dalam kontroversi tafsir ayat Al-Maidah 51 karena ada berbagai pandangan dan penafsiran yang berbeda. Ini juga bukan tulisan yang akan berargumentasi tentang benar tidaknya sinyalemen AR tentang berbagai 'kegagalan' pemerintahan Jokowi. Yang ingin disoroti di sini adalah pandangan AR tentang penistaan agama secara umum, Islam khususnya.

Sangat disayangkan tokoh sekaliber AR dengan pendidikan tinggi dan pernah menduduki jabatan-jabatan sangat terhormat di negeri ini mempunyai kesamaan dengan banyak Muslimin awam dalam cara memandang yang, menurut saya, tidak tepat tentang esensi Islam.

Pertama, AR lebih marah dan lebih tidak sabar ketika ada yang menghujat Tuhan daripada penyebab timbulnya ketidak-adilan di masyarakat. Hal ini memang telah menjadi ciri dari berbagai ulama dan awam pengikutnya yang menyebut diri sebagai pembela Islam. Kita nyaris tidak pernah menyaksikan gerakan-gerakan pembela Islam yang membela kaum miskin, kaum buruh, para penganggur, pendidikan yang mahal, atau menentang koruptor dan berbagai ketimpangan lain, tapi gerakan-gerakan itu rajin berontak ketika hal-hal yang diharamkan dalam Islam seperti minuman keras, pornografi, prostitusi, dan sejenisnya muncul ke permukaan. Buat para "pembela" itu, biarkan rakyat miskin dan menderita asalkan minuman keras dan sejenisnya dilarang di negeri ini. Pandangan AR tak jauh berbeda. Sabarlah dan jangan cepat marah terhadap adanya ketimpangan dan ketidakadilan, tapi segera bertindak bila ada yang menghujat agamamu.

Kedua, AR rupanya ingin mewakili fungsi pengadilan dunia dan akhirat. Bukankah ketika yang dinista langit seharusnya kita biarkan langit yang menghukum? Apalagi bila penistaan itu bukan dalam bentuk perbuatan, tetapi dalam kata-kata atau tulisan. Apakah si penista akan selamat di dunia dan akhirat, biarkan langit yang memutuskan. Itu sudah bukan urusan kita lagi. Tugas kita sebagai khalifah di bumi adalah untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera, damai, dan tenteram di bumi. Bukan untuk menghukum mereka yang tidak beriman atau menista Allah. Benar kita punya pasal 156A KUHP tentang penodaan agama tetapi menurut banyak ahli, undang-undang itu adalah sebuah kecelakaan hukum yang berisi pasal karet yang bisa disalahgunakan oleh berbagai pihak untuk kepentingan kelompoknya. Sama seperti di Eropa dulu ketika diberlakukan hukuman berat terhadap apa yang disebut sebagai blasphemy (penistaan agama) yang kemudian dalam sejarah kita tahu telah memicu gerakan reformasi agama Kristen besar-besaran.

Ketiga, AR, seperti banyak Muslimin lainnya, telah cenderung mempersonifikasikan (memanusiakan) Tuhan seakan Tuhan punya sifat-sifat makhluk-Nya yang mudah tersinggung, marah jika dinista, dan tidak sabaran. Seakan-akan Tuhan dirugikan dengan adanya orang yang menista kemuliaan-Nya. Tuhan yang mahakaya tidak sedikit pun butuh pujian, sembahan, atau bahkan ibadah apa pun dari manusia. Kewajiban shalat, umpamanya, dalam Islam bukan untuk kepentingan Tuhan, tapi untuk kemaslahatan manusia sendiri. Begitu pula Tuhan, sedikit pun tidak akan berkurang kemuliaan-Nya dan tidak akan merasa dirugikan bila ada makhluk-Nya yang mencerca atau menghina-Nya. Kalau sudah begitu, kenapa kita harus menempatkan diri kita sebagai pengganti Tuhan dan marah-marah serta bernafsu menghukum penista, seakan kita diberi wewenang untuk mewakili Tuhan. Begitu pula junjungan Nabi kita Muhammad SAW dengan akhlaknya yang agung. Tidak pernah beliau membalas hinaan bahkan lemparan batu hingga berdarah-darah terhadapnya, akan tetapi justru berdoa memohon Allah mengampuni pelakunya karena mereka dianggap termasuk golongan orang yang tidak tahu hakikat kebenaran.

Keempat, salah satu masalah besar agamawan termasuk sebagian Muslimin adalah menjadikan agama sebagai bagian dari identitas diri, lebih dari sekadar sarana untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ketika orang lain yang tidak paham kemudian mencela atau mencerca agamanya, maka dia akan merasa dirinya atau kelompoknya telah dihina. Itulah yang terjadi dalam kasus-kasus pembunuhan para penista agama Islam di Negeri Belanda, Perancis, Swedia dan lain-lain yang kemudian mencederai citra Islam dan menganggap Islam sebagai agama yang penuh kekerasan. Begitu pula fatwa mati Imam Khomeini terhadap penulis Inggris Salman Rushdi yang dibela oleh pendukungnya sebagai pelaksanaan hukum terhadap seorang Muslim yang murtad dan menista agama, telah ditolak oleh berbagai pihak karena telah merusak citra Islam. Ucapan Allahu Akbar yang sangat agung telah menjadi teriakan yang mengerikan bagi banyak pihak karena kebiasaan teroris meneriakannya sebelum menggorok leher orang tak bersalah atau melakukan bom bunuh diri, atau dalam khotbah-khotbah yang penuh kebencian.

Kelima, andaikata benar di negeri ini atau di tempat lain banyak pembenci Islam, bagaimana mungkin dakwah kita akan berhasil bila kita membalas kebencian itu juga dengan kebencian dan kemarahan. Islam adalah agama akhlak dan damai. Penggunaan kekerasan dalam Islam hanya dibolehkan sebagai upaya defensif terakhir ketika musuh menyerang lebih dulu dan ketika semua jalan untuk berdamai telah buntu. Islam adalah agama pemaaf seperti dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika menaklukkan kafir Quraish di Makkah dan memberi maaf kepada semua bekas musuh-musuhnya.

Saya tidak bisa berharap banyak kepada berbagai ustad dan ulama karbitan yang banyak beredar di negeri kita. Namun, bila orang sangat terhormat setingkat pak Amien Rais, seorang Muslim yang taat dan terpelajar, gagal menyampaikan pesan-pesan Islam yang universal dan benar, maka siapa lagi yang dapat kita harapkan untuk membimbing umat Islam yang mayoritas di negeri tercinta ini. Mudah-mudahan Allah memberi hidayah dan membukakan jalan terbaik bagi kita semua. Amin.

Sumber: ROL
Editor: Surya


Name

#AksiJokowi,4,#BaladaCintaRizieq,10,#HariHariAhok,2,#NovelBaswedan,3,#VonisAhok,7,Advetorial,1,Ahmad Dhani,3,Ahok,26,Ahok Tersangka,21,Al-Maidah 51,37,Amerika,4,Anies Baswedan,2,Antasari,2,Anti Hoax,2,Anti Korupsi,2,Anti-Hoax,6,Bahar bin Smith,1,Balada Cinta Rizieq,1,Basuki Tjahaja Purnama,8,Bekasi,1,Berita,1455,BNPT,1,Bogor,3,Buni Yani,12,Buni Yani Tersangka,7,Buya Syafi'i,1,Cybercrime,5,Debat Capres-Cawapres,1,Demo 2 Desember,14,Demo 212,6,Demo 25 November,1,Demo 4 November,1,Demo 411,1,Demo Ahok,53,Denny Siregar,2,Densus 88,3,Donald Trump,4,DPR,1,Education,6,Ekonomi,66,Entertainment,28,Fadli Zon,2,Fahri Hamzah,3,Fahri Hazah,1,Fakta Seputar,5,Featured,71,Film,1,Finance,3,First Travel,1,FPI,7,G30S/PKI,1,Gadget,1,Gempa Aceh,4,GNPF-MUI,1,Golkar,1,Goyang Maumere,1,Gus Dur,2,Gus Mus,2,Habib Rizieq,1,Haul Gus Dur,2,Headlines,88,Health,35,Heboh,1,Historia,1,HMI,4,Hoax or Not,11,Humor,6,Ibas,1,Indonesia,5,Indonesiana,6,Inspirasi,36,Internasinal,1,Internasional,161,Internet Positif,1,Islam,30,Iwan Fals,1,Jabodetabek,1,Jakarta,429,Jawa Barat,2,Johan Budi,1,Joko Widodo,2,Jokowi,16,Jonru,5,Jusuf Kalla,1,KAHMI,1,Kalijodo,1,Kalimantan,1,Kasus,1,Kasus Korupsi,1,Kasus Makar,2,Kebangsaan,1,Kemendikbud,1,Kepoin Aja,3,Kivlan Zein,1,Kolom,19,Kolom Agama,24,Kolom Humaniora,6,Kolom Pendidikan,1,Kolom Politik,34,Korupsi,1,KPK,3,KPU,1,Kriminal,192,Kriminalisasi Ulama,1,Kronologi,1,Kuis Jokowi,1,Kultwit,1,Lalu Lintas,1,Life Style,20,Lowongan,1,Lukman Hakim Saifuddin,1,Makar,1,Metro Channel,2,Mobile,1,Mubahalah,2,Nahdlatul Ulama,4,Nasional,1689,Natal,1,News,1244,News. Nasional,1,Non Tunai,1,Novel Bamukmin,1,NU Care,1,Ojek Online,1,Opini,178,Oponi,1,Otomo,3,Otomotive,1,Pemerintahan,1,Pemilu Amerika,2,Pendidikan,22,Perang Dunia Ke-III,1,Peristiwa,1,Pilgub DKI,9,Pilkada,53,Pilkada 2017,14,Pilkada Bekasi,2,Pilkada DKI,125,Pilkada Jabar,1,Pilkada Jakarta,36,Pilpres,14,PKS,1,PMII,1,Polisi,1,Politik,895,Polri,2,Prabowo,1,PT DGI,1,Quiz,1,Ragam Nusantara,4,Religi,10,Rizieq Shihab,5,Rohingya,1,RPTRA,1,Saracen,3,SBY,8,Science,8,Semarang,1,Senayan,1,Senggang,1,Serba-serbi,6,Setya Novanto,2,Sidang Ahok,12,Sosial Budaya,18,Sport,9,Sumanto Al-Qurtubi,1,Sumpah Pemuda,1,Surat Terbuka,1,Tekno,48,Teori Konspirasi,1,Terorism,3,Terorisme,11,TIK,1,Timnas,1,Tito Karnavian,1,TNI,3,Toleransi,1,Transkrip,1,Travel,25,Trend Sosial,63,Trial,1,TurnBackHoax,1,Ulasan,2,UU Pemilu,1,Video,17,Viral,77,Vonis Ahok,2,Wakil Rakyat,1,Wawancara,2,Zakir Naik,2,
ltr
item
FaktaIndonesia.id - Berita Fakta Indonesia Pilihan: Sekali Lagi Soal Ahok, Menista Langit: Tanggapan untuk Amien Rais
Sekali Lagi Soal Ahok, Menista Langit: Tanggapan untuk Amien Rais
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDy2p50TW0eXqHQEuQKAf_c3aqkit6iGoht8StqfR5h7dNqtVryI9qIpLVW9Ki18NCkTABJMEoi_8vHb4o2zuguoQFUdkb4b68l-KN-efaHuveA27Cr9XNB8qwIRj_UA2HJ7DK9cQY54s/s640/Amien+Rais.jpg
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjDy2p50TW0eXqHQEuQKAf_c3aqkit6iGoht8StqfR5h7dNqtVryI9qIpLVW9Ki18NCkTABJMEoi_8vHb4o2zuguoQFUdkb4b68l-KN-efaHuveA27Cr9XNB8qwIRj_UA2HJ7DK9cQY54s/s72-c/Amien+Rais.jpg
FaktaIndonesia.id - Berita Fakta Indonesia Pilihan
https://kompasnewscom.blogspot.com/2016/11/sekali-lagi-soal-ahok-menista-langit_56.html
https://kompasnewscom.blogspot.com/
https://kompasnewscom.blogspot.com/
https://kompasnewscom.blogspot.com/2016/11/sekali-lagi-soal-ahok-menista-langit_56.html
true
1123746350529315679
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Selengkapnya Balas Cancel reply Hapus Oleh Beranda Halaman Postingan View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE CARI ALL POSTS Not found any post match with your request KEMBALI KE BERANDA Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jum'at Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy